Sales

SUDAH PUNYA BRAND VALUE?

Platform Web 2.0 menghasilkan berbagai aplikasi seperti web-based communities, hosted services, web applications, social-networking sites, video-sharing sites, wikis, dan blog yang memudahkan tiap orang untuk membuat dan berbagi konten. Kondisi ini membuat terjadi pergeseran pengetahuan dan pengaruh dari pemasar ke konsumen (Kozinets, 1999). Saat ini, konsumen menciptakan konten berupa foto, video, ulasan produk, dan pertanyaan di situs

NO VALUE NO BRAND

Sebelumnya Selanjutnya Gak ada value, gak ada yang namanya brand. Makanya kalo ada klien mau minta dikerjain copywriting-nya sama saya, saya pasti nanya dulu tentang apa keunikan dari bisnis mereka, apa bedanya dari kompetitor mereka. Ada yg mantep jawab, ada yang jawab tapi gak paham poinnya, ada yang ngelantur kesana-kemari, ada yang bingung mikir, ada

JANGAN JUALAN PRODUK, MULAILAH DENGAN CERITA

Kata Pak Bi di postingan Instagramnya baru-baru ini, “Jangan jualan produk, mulailah dengan cerita.” Kalau begitu, bagaimana caranya untuk mempromosikan produk kita, dan cerita seperti apa yang perlu kita sampaikan ke calon konsumen kita? Kata Pak Bi, ceritakan keunikan produk Anda. Sebagai contoh, kita bisa melihat bagaimana cara Pak Bi mempromosikan jasanya sebagai praktisi branding

WALK THE TALK

Yang di omongin ya harusnya yang pernah dilakukan. Nasehat para sepuh “Mun ncan kabukti mah bohong”. Cerita kisah sukses anda buat menginspirasi. Bukan dibuat formula. Karena jaman berubah. Marketing 1.0 (4P) yang fokus memuji keunggulan produk (iklan) populer sebagai Marketing modern tahun 1960-an. Sudah beralih ke Marketing 2.0 pada tahun 1990-an yang fokus pada Branding

BIARKAN KARYA BICARA. KALAU GAK PUNYA KARYA TINGKAT NASIONAL MEMANG JADI SUSAH BICARA

Selaku praktisi Branding karier yang 50 tahun, saya termasuk sangat beruntung karena perjalanan profesi saya cukup runut membentuk seorang Pak Bi yang sekarang. Bayangkan di usia 19 thn baru lulus SMA sudah langsung ditawari kerja sebagai Art Director di sebuah Packaging Company modern saat itu yang mengusung credo “Packaging is a Silence Salesman”. Sebagai Art