Branding

INSPIRASI LAMA YANG MASIH RELEVAN

Kisah Lucu Dari Tanah Papua Konon, suatu ketika ada sebuah desa di pelosok Papua yang penghasilan utamanya adalah pisang. Banyak sekali pisang enak yang dihasilkan dari tanah subur di desa tersebut. Selain manis, besar-besar, dan konon khasiatnya sangat bagus untuk kesehatan. Itulah mengapa, penduduk di sana banyak yang menggantungkan hidup dari hasil jualan pisang. Tapi,

TIDAK PAHAM PERUBAHAN ECOSYSTEM BIKIN PENGUSAHA GAGAL TRANSFORMASI BISNISNYA KE DIGITAL

Sebelumnya Selanjutnya Selagi kita sibuk cari cuan, tanpa kita sadari ecosystem konsumen berubah drastis. Setahun belakangan ini saya banyak bertemu pengusaha besar yang gagap mentranformasikan bisnisnya ke Ecosystem digital. Transformasi bisnis dari off-line ke digital itu bukan sekedar hadir di sosial media, beriklan di IG, FB atau TikTok, pakai Brand Ambasador tetapi transaksinya tetap tatap

TOO MUCH INFORMATION MEMBUAT ORANG MENUNGGU REVIEW DAN RECOMENDATION

Sebelumnya Selanjutnya Pengusaha jaman now dibuat pusing tujuh keliling. Bagaimana tidak. Lewat riset dan development mereka pikir kita punya produk yang Istimewa dengan seabreg keunggulan. Ternyata gak lama kemudian muncul produk yang mirip-mirip. Lalu produk kita menjadi generic. Sama saja seperti yang lain. Lalu kita tambah budget iklan. Lalu pakai BA (Beauty Advisor). Dalam hitungan

MARKETING EKSEKUTIF JAMAN NOW KURANG BERUNTUNG, MENGAPA?

Karena Marketing tugas pokoknya adalah “Create demand” atau menciptakan keinginan dan kebutuhan. Praktisi Marketing jaman dulu menciptakan demand lewat 4P yang terhitung modern pada jamannya. Menciptakan daya tarik pembeli untuk Bertransaksi lewat : 1. Produk yang bagus dalam segala hal. Ya bentuknya, ya fungsinya, ya kualitasnya dan lainnya sebagai physical added value. Anak Marketing jaman

IKLAN ATAU INFLUENCER

Saat ini banyak postingan yang menawarkan layanan “iklan digital” ataupun “influencer marketing”. Beberapa teman bertanya, mana yang paling cocok untuk usaha saya: “beriklan” atau “gunakan influencer”. Dari sisi teori difusi inovasi, baik beriklan maupun influencer (Word of Mouth) memiliki pengaruh terhadap adopsi produk baru. Bass, dkk (1990) menyebutkan saluran media massa dan iklan merupakan sarana