Admin

Marketing 1.0 VS Marketing 2.0

Marketing merupakan sebuah aktivitas dalam menciptakan permintaan (demand creation), dimana mengumpulkan orang yang memiliki kebutuhan yang sama lalu dibuat membeli, dengan cara menyampaikan alasan mengapa mereka membutuhkan dan menginginkan suatu produk.   Bicara soal fokus/prioritas marketing, lahirlah ke-4 fase marketing yakni Marketing 1.0, Marketing 2.0, Marketing 3.0, dan Marketing 4.0.   Disini kita akan menjelaskan

Mati-Matian Bersaing, Ujungnya Banting Harga, Apa Yang Salah?

Bisnis memang tidak bisa asal dibangun, yang lebih rumit adalah bagaimana cara survive di arena persaingan bersama kompetitor lain.   Ada bisnis yang sebenarnya sudah mengaplikasikan semua teori dan strategi, mulai dari Brand Positioning, Business Plan, Product Identity, dan sebagainya, tapi ujung-ujungnya tetap terpaksa banting harga demi bertahan.   Ada yang salah?   Bisa jadi karena

Marketing 2.0: Memposisikan Customer Sebagai yang Teristimewa

Customer is Your Wife

Fokus marketing berubah seiring perkembangan pasar dan mindset masyarakat. Ketika pada awalnya marketing terkonsentrasi pada produk, muncullah fase dimana aktivitas ini beralih pada customer. Inilah latar belakang kemunculan Marketing 2.0 : customer sebagai prioritas. Mengutip kalimat David Ogilvy “The Father Of Advertising”: “Customer is not a moron. She is your wife.” Dari kalimat ini dapat

Belum Bisa Jadi yang Terbaik? Jadilah Yang Beda

Belum Bisa Jadi yang Terbaik? Jadilah Yang Beda

Salah satu ‘mantra’ paling penting dalam berbisnis adalah mengaplikasikan konsep branding dengan tepat.   Seringkali branding diterjemahkan sebagai cara untuk menjadi yang terbaik dalam ranah persaingan di antara kompetitor-kompetitor.   Padahal, mindset ini tidak mutlak.   Terlebih lagi ketika sebuah bisnis baru saja dimulai, brand baru dibangun, tentu bukan hal yang mudah jika tiba-tiba menargetkan

Bikin Brand Mesti Berani Tepati Janji

Bikin Brand Mesti Berani Tepati Janji

“Making promises and keeping them is a great way to build a brand.” –Seth Godin   Ya, membangun brand adalah tentang membangun sebuah kepercayaan, tentang bagaimana identitas anda bukan hanya tertinggal di benak masyarakat sebagai sebuah identitas saja, tetapi mampu mentransformasikannya menjadi sebuah kepercayaan dan kesetiaan.   Bicara soal branding, anda harus punya visi dan