Branding

UKM Kaki Lima Perlu Branding?

UKM Kaki Lima Perlu Branding?

Mindset kita kerap berasumsi bahwa setiap bentuk usaha sekecil pun membutuhkan branding. Padahal nyatanya tidak. Sebut saja, usaha kaki lima. Tanpa repot menciptakan branding, brand mereka bakal terbentuk dengan sendirinya. Khusus dalam konteks UKM kaki lima ini, tidak perlu stimulan untuk menumbuhkan pantulan atau persepsi. Teori Pak Bi soal branding memang tidak bisa disangkal, namun

Komunikasi yang Menyenangkan Itu Prioritas Utama!

Komunikasi yang Menyenangkan Itu Prioritas Utama!

Anda mungkin pernah mendengar sebuah kutipan dari Leo Burnett pada tahun 1960-an yang bunyinya : “Make it simple. Make it memorable. Make it inviting to look at. Make it fun to read.” Kutipan tersebut mengacu pada teknik copywriting yang seiring perkembangan zaman selalu menjadi cara berkomunikasi yang tepat dan efektif untuk meraih customer secara psikologis. Copywriting bukanlah soal benar atau salah, tapi soal bagaimana menggunakannya secara efektif agar

Carousel VS Caption

Strategi marketing selanjutnya adalah tentang bagaimana cara Anda menampilkan produk Anda lewat unggahan di media sosial, khususnya Instagram. Instagram saat ini merupakan salah satu kanal media sosial yang paling potensial dan profitable bagi Anda yang sedang membangun bisnis. Ya, Instagram menyuguhkan berbagai fitur visual yang unik dan menarik yang bisa dinikmati secara gratis bagi siapapun.

Mati-Matian Bersaing, Ujungnya Banting Harga, Apa Yang Salah?

Bisnis memang tidak bisa asal dibangun, yang lebih rumit adalah bagaimana cara survive di arena persaingan bersama kompetitor lain.   Ada bisnis yang sebenarnya sudah mengaplikasikan semua teori dan strategi, mulai dari Brand Positioning, Business Plan, Product Identity, dan sebagainya, tapi ujung-ujungnya tetap terpaksa banting harga demi bertahan.   Ada yang salah?   Bisa jadi karena

Marketing 2.0: Memposisikan Customer Sebagai yang Teristimewa

Customer is Your Wife

Fokus marketing berubah seiring perkembangan pasar dan mindset masyarakat. Ketika pada awalnya marketing terkonsentrasi pada produk, muncullah fase dimana aktivitas ini beralih pada customer. Inilah latar belakang kemunculan Marketing 2.0 : customer sebagai prioritas. Mengutip kalimat David Ogilvy “The Father Of Advertising”: “Customer is not a moron. She is your wife.” Dari kalimat ini dapat