Bisnis

BIG THINK DAN REBRANDING INDONESIA

Dalam persaingan dunia semakin kompetitif, refleksi Pak Subiakto bahwa “Indonesia menjadi negara besar yang kehilangan pasar” (Subiakto, 2015) Pak Bi yang berpengalaman 50 tahun sebagai “Praktisi Branding”, terpanggil untuk berkontribusi untuk “Indonesia Yang Lebih Baik” dengan membagi pengalaman di bidang Brand untuk mendorong pelaku usaha yang menjadi motor penggerak perekonomian Indonesia mampu menciptakan Produk Brand

Ciptakan Kategori Baru, Modal Awal Bisnis Besar

Ciptakan Kategori Baru, Modal Awal Bisnis Besar

Membangun bisnis tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Anda butuh riset, Anda butuh ilmu, Anda butuh kemampuan mengaplikasikan teori yang sudah Anda pelajari. Butuh teori tentang tahap-tahap membangun brand? Tinggal pelajari ilmu-ilmu yang dijelaskan Pak Bi. Semua perlu disimak dan dipahami. Tapi tak cukup sampai disitu, Anda juga harus punya kemampuan untuk mengaplikasikannya ke dalam bisnis

Mati-Matian Bersaing, Ujungnya Banting Harga, Apa Yang Salah?

Bisnis memang tidak bisa asal dibangun, yang lebih rumit adalah bagaimana cara survive di arena persaingan bersama kompetitor lain.   Ada bisnis yang sebenarnya sudah mengaplikasikan semua teori dan strategi, mulai dari Brand Positioning, Business Plan, Product Identity, dan sebagainya, tapi ujung-ujungnya tetap terpaksa banting harga demi bertahan.   Ada yang salah?   Bisa jadi karena

Marketing 2.0: Memposisikan Customer Sebagai yang Teristimewa

Customer is Your Wife

Fokus marketing berubah seiring perkembangan pasar dan mindset masyarakat. Ketika pada awalnya marketing terkonsentrasi pada produk, muncullah fase dimana aktivitas ini beralih pada customer. Inilah latar belakang kemunculan Marketing 2.0 : customer sebagai prioritas. Mengutip kalimat David Ogilvy “The Father Of Advertising”: “Customer is not a moron. She is your wife.” Dari kalimat ini dapat

Kopiko Mendapat Lawan yang Sepadan

Nah. Sekarang KOPIKO mendapat lawan yg sepadan. Sayangnya Coffee Candy Kapal Api ini datang terlalu terlambat. 30 tahun kemudian. KOPIKO dah terlanjur besar. Seperti sering saya jelaskan didepan kelas bahwa dalam bisnis semua orang “Live in the borrowed time”. Membesarkan bisnis dalam waktu yg dipinjamkan pesaing. KOPIKO sadar akan hal ini. Tumbuh cepat sebelum waktu